Pemuda NU yang tergabung dalam Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pemudi Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) diminta untuk mewaspadai paham radikalime. Sebab, pasca reformasi yang ditandai dengan terbukanya demokratisasi telah menjadi lahan subur tumbuhnya kelompok radikal. Hal tersebut disampaikan Danramil Wonoayu Kapten Inf Kabul Tarmanto pada dalam rangka Kunjungan ke Koramil 13 Wonoayu Pimpinan Anak Cabang (PAC) IPNU-IPPNU Kecamatan Wonoayu di kantor Koramil 0816/13 Wonoayu, Selasa (04/07/17) Pukul 16,00 Wib.
Menurut Danramil 13 Wonoayu, fenomena radikalisme di kalangan umat Islam seringkali disandarkan dengan paham keagamaan, sekalipun pencetus radikalisme bisa lahir dari berbagai sumbu, seperti ekonomi, politik, sosial dan sebagainya. Radikalisme yang berujung pada terorisme menjadi masalah penting bagi umat Islam Indonesia dewasa ini. “Pemuda NU jangan sampai tergiur apalagi sampai terseret ke paham yang membawa kemudaratan,” ujarnya. “Di sini, pemuda NU harus waspada, karena peran sangat strategis untuk menanamkan Islam yang radikalis atau yang moderat,” terangnya. Pemuda yang tidak memiliki latar belakang pendidikan agama (pesantren), sangat mudah terpengaruh model-model Islam harfiah yang diajarkan guru atau ustadz mereka. Oleh karena itu, pihak sekolah dan guru agama perlu menjalin kerja sama dengan ormas-ormas Islam yang dikenal mengajarkan Islam moderat. Hal ini penting supaya anak didik memiliki wawasan yang luas tentang paham keislaman. “Tapi saya yakin, pemuda NU menjadi pelopor anti radikalisme dalam upaya mempertahankan NKRI, NKRI harga mati!,
Editor : Pak RW